Doa Anak Yatim – Tak hanya kita yang hidup seribu tahun lebih setelah Rasulullah SAW wafat, bahkan para sahabat juga pernah berpikir bahwa sedekah itu harus dengan harta atau uang. Jika sedekah harus dengan harta atau uang, maka hanya orang kaya yang paling beruntung. Sebab mereka bias lebih banyak bersedekah.
Dari Abu Dzar ra berkata, ada sekelompok Sahabat Rasulullah SAW berkata,
“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya di antara kami telah pergi dengan pahala mereka. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan hartanya mereka.”
Maksud dari yang disampaikan di atas adalah Bagaimana dengan mereka yang hanya bisa menjalankan shalat dan berpuasa tanpa mampu bersedekah? Tentu saja, orang-orang yang lebih kaya tampaknya lebih beruntung dan mulia karena mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk bersedekah. Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari seorang sahabat, Rasulullah SAW pun menjelaskan bahwa sedekah itu tak melulu harus dengan harta.
Seorang muslim dapat bersedekah dengan berbagai macam amal saleh dan kebaikan apa saja. maka dari itu, sedekah memiliki arti yang sangat luas. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang tidak mampu untuk bersedekah dengan harta karena keterbatasan ekonomi, perbanyaklah amal saleh karena hal ini juga dihitung sebagai sedekah yang tanpa mengeluarkan harta.
Dalam suatu hadis Arbain disebutkan, “Bahkan pada kemaluan seorang di antara kalian ada sedekahnya.”
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا يَتَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ
Dari Abu Dzar ra: Sesungguhnya sejumlah orang dari shahabat Rasulullah SAW berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedang kami tidak dapat melakukannya).” (Rasulullah) bersabda: “Bukankah Allah telah membuatkan banyak jalan untuk kalian bersedekah? Sesungguhnya pada setiap tasbih (satu kali itu) terhitung sedekah, takbir adalah sedekah, tahmid adalah sedekah, tahlil adalah sedekah, mengajak orang kepada kebaikan itu sedekah, dan melarang orang dari kemungkaran juga sedekah. Bahkan pada kemaluan seorang di antara kalian ada sedekahnya.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya kemudian dia mendapatkan pahala dari situ?” Beliau menjawab: “Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan dijalan yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka baginya mendapatkan pahala.” (HR Muslim)
Dengan penuh keluasan, Allah SWT memberikan keutamaan pada setiap amal saleh dan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. Setiap ibadah dan amal baik membuka pintu-pintu sedekah bagi mereka. Bahkan, satu kali zikir sudah dianggap sebagai sedekah. Sebagai contoh, mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan lainnya.
Lantas, sudah sejauh mana dan seberapa banyak kita melantunkan dan membasahi bibir dengan mengucap dzikir kepada Allah SWT? Apabila hal itu jarang dilakukan, maka sekarang adalah waktunya untuk mulai lebih banyak dan lebih giat lagi melakukannya. Banyak sekali jenis dzikir yang bias kamu lakukan dimulai dari dzikir setelah shalat, zikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur bahkan hingga setiap apapun yang kita kerjakan bisa kita Mulai dengan doa-doa yang sudah disunnahkan dan di dalamnya terkandung dzikir kepada Allah.
Hadits ini menunjukkan semangat tinggi para sahabat dalam beramal saleh. Namun, mereka merasa sedih karena orang kaya bisa melaksanakan semua ibadah, sementara ada satu amalan yang sulit dilakukan oleh mereka yang kurang mampu, yaitu bersedekah. Padahal, sedekah itu termaafkan jika seseorang tidak mampu melakukannya. Pertanyaan para sahabat dalam hadits tersebut membuka wawasan tentang makna sedekah setelah wafatnya Nabi SAW.
Bagi mereka yang mampu, ada kewajiban seperti mengeluarkan zakat dan larangan menumpuk harta untuk dinikmati sendiri. Menurut hadits riwayat Bukhari yang dikutip dari indonesiainside.id, sahabat yang mengadu kepada Nabi tersebut adalah kaum fakir miskin dari kalangan Muhajirin. Mereka hijrah ke Madinah meninggalkan kekayaan di Mekah dan diuji dengan kemiskinan di sana. Perlu dicatat, yang mereka keluhkan bukan kemiskinan, melainkan keinginan untuk bersedekah karena besarnya pahala yang menyertainya. Mereka tidak ingin ketinggalan dari pahala amalan tersebut.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
أَفلا أُعَلِّمُكُمْ شيئًا تُدْرِكُونَ به مَن سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ به مَن بَعْدَكُمْ؟ وَلَا يَكونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنكُم إلَّا مَن صَنَعَ مِثْلَ ما صَنَعْتُمْ
“Tidakkah kalian mau aku beritahu sebuah amalan yang dengan kalian bisa mengejar orang-orang sebelum kalian? Dengan amalan ini kalian bisa mengalahkan orang-orang setelah kalian dan tidak ada orang yang lebih afdal daripada kalian kecuali jika orang tersebut beramal seperti amalan kalian.” Para sahabat berkata, “Tentu saja Wahai Rasulullah. Siapa yang tidak mau diajarkan suatu amalan yang dengan amalan ini mereka bisa mengejar ketertinggalan dari orang-orang terdahulu. Dengan amalan ini pula orang-orang bisa mengalahkan orang-orang yang akan datang. Dan mereka bisa menjadi yang terbaik dari umat ini.”
Maka Rasulullah SAW bersabda:
تُسَبِّحُونَ، وَتُكَبِّرُونَ، وَتَحْمَدُونَ، دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً
“Kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap selesai shalat 33 kali.” Yaitu, membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali setiap selesai shalat. Maka para sahabat bergembira dengan amalan yang baru mereka tahu ini, tapi kemudian kata Abu Shalih (yang meriwayatan hadits ini dari Abu Hurairah), beliau mengatakan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin kemudian kembali kepada Rasulullah SAW dan mengatakan:
سَمِعَ إخْوَانُنَا أَهْلُ الأمْوَالِ بما فَعَلْنَا، فَفَعَلُوا مِثْلَهُ
“Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami yang kaya telah mendengar amalan yang engkau beritahukan kepada kami, maka mereka pun melakukan hal yang sama.”
Maka Rasulullah SAW bersabda:
ذلكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ
“Wahai para sahabatku, itu adalah anugerah dari Allah yang Dia berikan kepada siapa yang dia kehendaki.”
Berdasarkan penjelasan tersebut, tidak hanya membahas tentang amalan sedekah melalui perbuatan baik dan ibadah kepada Allah SWT. Tetapi, juga terdapat pesan tentang kesabaran bagi mereka yang menghadapi keterbatasan materi, tawakkal, serta kerelaan menerima pemberian dan ketetapan dari Allah SWT. Selain itu, yang juga sangat penting adalah berupaya dan berlomba-lomba dalam meningkatkan ibadah, perbuatan baik, dan amal kebaikan lainnya. Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber gambar:
Penulis: Elis Parwati