DOA ANAK YATIM – Di tengah kehidupan sosial yang serba terbuka, sering kali kita lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kekurangan diri sendiri. Lisan cepat menilai, hati ringan menghakimi, sementara upaya memperbaiki diri justru tertunda. Padahal, dalam Islam, sibuk menilai orang lain sering kali menjadi tanda lalainya seseorang terhadap aib dirinya sendiri.

Allah ﷻ mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menegaskan bahwa prasangka, apalagi yang berujung pada penghakiman, bukan perkara sepele. Ia bisa merusak hati, memutus ukhuwah, dan menumbuhkan rasa sombong tanpa disadari.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aib dirinya sendiri sehingga ia tidak sempat memikirkan aib orang lain.” (HR. Al-Baihaqi)
Hadits ini menjadi cermin bagi kita. Orang yang benar-benar ingin selamat bukanlah yang paling pandai menunjuk kesalahan orang lain, tetapi yang paling serius memperbaiki dirinya sendiri.
Menghakimi sering kali membuat hati merasa lebih baik, padahal itu hanyalah tipuan ego. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki perjuangan dan ujian yang tidak selalu terlihat. Sementara dosa dan kekurangan diri sendiri justru lebih pantas untuk kita tangisi dan perbaiki.
Islam mengajarkan untuk menjaga hati dan lisan, serta menggantikan kebiasaan menghakimi dengan doa dan nasihat yang lembut. Jika melihat kesalahan orang lain, seharusnya itu menjadi pengingat bahwa kita pun bisa terjatuh pada kesalahan yang sama.
Maka, mari kita alihkan energi dari menghakimi menuju memperbaiki diri. Karena keselamatan di sisi Allah bukan diukur dari seberapa sering kita menilai orang lain, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita memperbaiki hati dan amal kita sendiri.
Penulis: Indra Rizki
Sumber foto: Alhilal