
Sumber foto: google.com
DOA ANAK YATIM – Dalam Islam, bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di dalamnya terdapat dua hari yang sangat istimewa, yaitu hari Tasu’a (9 Muharram) dan hari Asyura (10 Muharram). Kedua hari tersebut memiliki nilai sejarah dan keutamaan yang luar biasa, terutama dalam praktik ibadah puasa sunnah.
Lantas, bagaimana awal mula dianjurkan Puasa Tasu’a dan Asyura bagi umat Islam? Dilansir dari berbagai sumber, inilah asal-usul dua puasa yang sangat dianjurkan untuk ditunaikan. Di antaranya:
Asal-usul Puasa Asyura
Puasa Asyura memiliki akar sejarah yang panjang. Saat Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Mereka melakukannya sebagai bentuk syukur atas peristiwa diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun di Laut Merah.
Ketika mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda:
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka Rasulullah SAW pun berpuasa pada hari tersebut dan menganjurkan umat Islam untuk ikut berpuasa sebagai bentuk syukur atas kemenangan kebenaran atas kebatilan.
Mengapa Ditambahkan Puasa Tasu’a?
Pada tahun-tahun berikutnya, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menambah satu hari puasa sebelum Asyura, yaitu pada tanggal 9 Muharram, agar umat Islam tidak menyerupai orang Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 saja. Maka, lahirlah anjuran untuk berpuasa pada hari Tasu’a dan Asyura.
Keutamaan Puasa Asyura
Puasa pada tanggal 10 Muharram memiliki keutamaan besar. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Sedangkan puasa Tasu’a juga dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian dan penyempurna ibadah.
Wallahu’alam bishawab.
Puasa Tasu’a dan Asyura bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sarana untuk merenungkan sejarah, memperkuat keimanan, dan menunjukkan syukur atas pertolongan Allah SWT. Dalam momen ini, umat Islam juga diajak untuk memperbanyak amal saleh, berbagi kepada sesama, dan mempererat ukhuwah.
Maka dari itu, mari kita sambut bulan Muharram dengan semangat ibadah, dan jangan lewatkan keutamaan puasa di hari Tasu’a dan Asyura. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menghapus dosa-dosa kita yang telah lalu.
Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.
Penulis: Nafisah Samratul Fuadiyah
Artikel untuk: www.doaanakyatim.com