DOA ANAK YATIM – Di zaman sekarang, lisan tidak lagi hanya berupa suara yang keluar dari mulut, melainkan juga ketikan jari di layar ponsel. Media sosial telah menjadi ruang di mana setiap orang bebas berpendapat. Namun, sebagai Muslim, kebebasan ini bukanlah tanpa batas. Setiap huruf yang kita ketik, setiap komentar yang kita kirim, dan setiap informasi yang kita bagikan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim). Hadits ini sangat cocok jika kita tarik ke media sosial: “Ketiklah yang baik, atau simpan ponselmu”, atau menjaga iman dan menjaga ketikan.
Bahaya Penyakit Hati di Dunia Maya
Seringkali, karena tidak bertatap muka langsung, seseorang merasa lebih berani untuk mencela, memfitnah, atau melakukan ghibah digital. Padahal, dosa dari jari yang mengetik keburukan sama besarnya dengan lisan yang berucap tajam. Satu komentar jahat bisa melukai hati orang lain secara permanen dan menjadi dosa jariyah yang terus mengalir selama tulisan itu masih bisa dibaca orang lain.
Agar media sosial menjadi ladang pahala, bukan sumber dosa, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:
- Tabayyun (Verifikasi): Jangan terburu-buru menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Fitnah seringkali bermula dari jempol yang terlalu cepat menekan tombol share.
- Pikir Sebelum Mengetik: Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah komentar ini bermanfaat? Apakah ini akan menyakiti orang lain? Apakah saya siap mempertanggungjawabkan kalimat ini di hadapan Allah?”
- Hindari Debat Kusir: Jika sebuah diskusi sudah mengarah pada amarah dan saling merendahkan, lebih baik menarik diri. Menjaga kedamaian hati jauh lebih utama daripada memenangkan argumen di kolom komentar.
Mari jadikan media sosial sebagai sarana dakwah dan penyebar kebaikan. Ingatlah bahwa ada malaikat Raqib dan Atid yang senantiasa mencatat setiap aktivitas digital kita. Biarlah ketikan kita menjadi saksi pembela kita di akhirat, bukan justru menjadi pemberat timbangan keburukan kita.
Penulis: Indra Rizki
Sumber foto: Alhilal