DOA ANAK YATIM – Lisan atau lidah, adalah salah satu nikmat terbesar sekaligus ujian terberat yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia. Meskipun ukurannya kecil, lisan memiliki daya rusak yang luar biasa besar, mampu menghancurkan persaudaraan, menimbulkan fitnah, bahkan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. Oleh karena itu, dalam Islam, menjaga lisan memiliki kedudukan yang sangat penting, menjadikannya kunci utama keselamatan di dunia dan akhirat.

Bahaya Lisan yang Tak Terkendali
Rasulullah ﷺ seringkali memberikan peringatan keras tentang bahaya lisan. Salah satu hadis menyebutkan bahwa salah satu perkara yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam api neraka adalah lisan dan kemaluan.
Lisan dapat melahirkan berbagai penyakit hati dan dosa, di antaranya:
- Ghibah (Menggunjing): Membicarakan keburukan orang lain yang tidak ada pada dirinya, bahkan jika itu benar, disebut ghibah, yang diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri (QS. Al-Hujurat: 12).
- Namimah (Mengadu Domba): Menyebarkan perkataan dengan tujuan merusak hubungan dan menimbulkan perpecahan di antara sesama.
- Berbohong dan Bersumpah Palsu: Menghancurkan kepercayaan dan melanggar perintah Allah.
- Mencela dan Melaknat: Menggunakan kata-kata kotor dan buruk yang dapat menyakiti hati orang lain.
Lisan yang Baik: Tanda Keimanan Seseorang
Menjaga lisan adalah cerminan dari kesempurnaan iman. Iman seseorang tidak akan lurus sebelum hatinya lurus, dan hatinya tidak akan lurus sebelum lisannya lurus.
Salah satu pesan fundamental dalam Islam mengenai lisan adalah sabda Nabi ﷺ:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan panduan yang sangat jelas: jika perkataan yang akan keluar adalah kebaikan (seperti nasihat, ajakan pada kebaikan, atau zikir), maka sampaikanlah. Namun, jika perkataan itu adalah keburukan atau tidak ada manfaatnya (laghwun), maka lebih baik untuk diam. Diam adalah emas, sebab ia menyelamatkan diri dari dosa.
Manfaat Menjaga Lisan
- Mendatangkan Ketenangan Hati: Hati yang tidak sibuk dengan ghibah dan mengurus urusan orang lain akan menjadi lebih tenang dan fokus beribadah.
- Menjaga Hubungan Sosial: Lisan yang terjaga akan menciptakan suasana harmonis dan damai dalam pergaulan, sehingga kita dicintai oleh sesama dan terhindar dari permusuhan.
- Keselamatan di Akhirat: Lisan yang banyak digunakan untuk zikir, membaca Al-Qur’an, dan mengucapkan perkataan baik akan menjadi saksi kebaikan di Hari Perhitungan kelak.
Menjaga lisan memang berat, tetapi ini amal ibadah batin harus terus dilatih. Mari kita jadikan setiap perkataan sebagai pertimbangan: apakah ia membawa pahala atau dosa? Dengan memilih berkata yang baik atau diam, kita telah menapaki jalan menuju keselamatan abadi.
Sumber foto: Alhilal
Penulis: Indra Rizki