
Doa anak yatim – Kehidupan modern sering kali menjebak kita dalam siklus utang. Kemudahan mendapatkan pinjaman, terutama melalui pinjaman online (pinjol), membuat banyak orang tergoda untuk memenuhi gaya hidup konsumtif dan impulsif. Namun, Islam mengajarkan kita untuk menjauhi utang sebisa mungkin. Mengapa?
Ancaman dan Peringatan dalam Islam
Nabi Muhammad SAW sering berlindung dari utang dalam doanya, yang menunjukkan betapa bahayanya utang. Salah satu hadis yang sangat terkenal adalah ketika Rasulullah SAW menolak menyalatkan jenazah seorang muslim yang masih memiliki utang. Beliau bertanya, “Apakah jenazah ini memiliki utang?” Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Salatkanlah sahabat kalian.” Ini menunjukkan betapa seriusnya perkara utang.
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Jiwa seorang mukmin tergantung karena utangnya, sampai ia melunasinya.”
Budaya Konsumtif dan Pinjaman Online
Fenomena pinjaman online, yang sering kali menawarkan kemudahan tanpa prosedur rumit, menjadi magnet bagi masyarakat yang memiliki sifat konsumtif dan impulsif. Mereka terdorong untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu penting, hanya demi mengikuti tren atau gengsi. Apalagi dengan maraknya promo di online shop dengan iming-iming “diskon spesial hari ini” yang semakin memancing konsumen untuk tidak berfikir dua kali dalam mengambil keputusan.
Pinjaman online sering kali disertai bunga yang mencekik. Jika tidak mampu membayar, utang akan terus menumpuk, bahkan dapat menyebabkan jeratan utang yang sulit diselesaikan. Marak kasus di mana para peminjam terlilit utang hingga kehilangan harta benda, bahkan menimbulkan masalah hukum.
Prinsip Kehidupan dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan panduan tentang bagaimana seorang muslim seharusnya mengelola hartanya. Allah SWT berfirman:
Surah Al-Furqan Ayat 67: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
Dengan menerapkan prinsip ini, kita akan terhindar dari perilaku konsumtif yang memicu kebutuhan akan utang. Kita perlu membedakan antara kebutuhan (hajat) dan keinginan (syahwat). Kebutuhan adalah hal-hal pokok untuk kelangsungan hidup, sedangkan keinginan sering kali didorong oleh hawa nafsu dan ambisi sesaat.
Mari kita renungkan kembali gaya hidup kita. Apakah kita benar-benar membutuhkan semua barang yang kita beli, atau hanya mengikuti hawa nafsu? Jangan sampai utang menjadi belenggu yang menjebak kita di dunia dan memberatkan kita di akhirat. Mulailah dengan melatih diri untuk hidup sederhana, bersyukur, dan menabung. Ingatlah bahwa rezeki datang dari Allah, dan mengelolanya dengan baik adalah bagian dari ibadah. Dengan begitu, kita bisa hidup tenang tanpa beban utang, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita keberkahan dan kemudahan dalam menjauhi utang. Aamiin.
Penulis: Indra Rizki